Nusatara Kaya Akan Segalanya

Semua Usaha Penuh Dengan Resiko dan Tantangan

Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalama.

Berjuan Hingga Akhir

Ketika penindasan menghantui jiwa ini maka lawan.

berjuanglah

Bansa yang baik adalah bangsa yang mampu mengandalkan dirinya sendiri.

pandailah bersyukur

Semua keindahan dan kenikmatan bangsa ini telah kau rasakan.

selalu dalam jiwa

hanya orang-orang yang berhati mulia yang mengenan sejarah.

Sabtu, April 6

KETERANGAN DANA REVOLUSI

Biarlah waktu mengalir dalam sebuah perjalanan ini, seberkas makna janji yang terlampiaskan nafsu menggrogoti kenangan pahit semu. Awal dari sebuah kesalahan kecil pelimpahan kepada sosok manusia yang tak berarti, atas nama RAHASIA EMPAT PENGUASA JAGAT terbuka karena tolak awal untuk dikenang, makna revolusi akan selamanya terlaksana dengan tergantinya wadak lama kepada raga sejati memperbaiki kesalahan masa silam. Ketahuilah jasat yang telah tiada akan selalu mengetahui gerak langkah penggelaran janji ini, karena kuasa Alloh lah semua ini kan tampak jelas dalam permukaan.
1963 awal terang harapan dengan dikembalikannya aset milik bangsa ke pangkuan jasmaniah Negara ini, terencana dengan matangnya terlayangkan perintah untuk mengumpulkan dan menata kepada Bank central menggelar dana revolusi ini. Sedikit demi sedikit berjalan secara terencana rapih tak tergoreskan, terduduk terdiam pada tatapan tajam akan datangnya mandat pada jiwa ini hingga awal pemulaan tatanan segi Revolusi dari titik awal bernama Nefo (New Emerging Forces) yang menyekutu  untuk membantu terkumpulah beberapa aset revolusi. Tercatat  US$ 450 juta di Union de Banques Suisses dan emas batang senilai 125 juta pound di Barclay’s, International Bank di London. Terpecah sebagai ketahanan rencana awal lagi masing-masing US$ 250.000 pada Guyerzeller Zumont Bank di Zurich, dan Bank Daiwa Securities di  Tokyo. Hancur bagai debu berterbangan karena tergores nafsu binatang yang besar, semua ini tersiapkan untuk penggelaran awal pembentukan infrastruktur dalam negeri. Dana Revolusi inilah kata yang pantas terdengar dikuping kalangan pengharap yang mencoba menyelesaikannya, malam gelap menjadi saksi perencanaan penggelaran agar semua ini berjalan dengan takdir yang dituliskan. Ketika kesemuanya ini tak lagi menjadi sesuatu yang rahasia terbeberkan oleh publik kalangan perbankan dunia, bahkan proses pelalihan  tak lagi beraturan berdalih atas nama semangat kesejahteraan umat ketahuilah bahwa penggelaran awal ini sangat lah melelahkan tergapai dalam rayuan untuk berserikat mengumpulkan kekuatan dalam bertahannya rencana abadi. Berjalan merangkul petinggi dunia luar sana, dan menjelaskan makna tatanan kepada empat imam pemersatu dari kepercayaan.
Rencana awal yang matang tiba-tiba terpagar oleh rasa penghianatan, penggelaran tatanan hidup dunia baru pun tersentak berantakan sudah bukan rahasia lagi bahkan seberkas kertas yang tersusun rapih membentang dalam ukuran nyata kini tak ada artinya lagi.Ketika pin sandi-sandi berterbangan mengatas namakan penggelar berharap terselesaikannya urusan aset ini dengan mulusnya hingga rekaan cerita dalam dunia perbankan pun deras memberikan angan kepada manusia yang mengataskan penyelesai.Ingat lah..Emas lantakan dan uang US$ 450 juta yang diharapkan tak berwujud.Ketahuilah Dana Revolusi pada tahun 1987 Bank Indonesia telah menerima dari dana tersebut sekitar US$ 550 ribu ditambah Rp 1,5 milyar,selain itu US$ 250 ribu dari Bank Guyerzeller Zumont, dan US$ 250 ribu di Bank Daiwa Securities. Uang ini semua masuk ke kas negara pada 1 Oktober 1987 bersetatus Dana tak Bertuan. Di kenang rekening di Union de Banques Suisses, Schweizerische Bank Geselinschaft Bern, Switzerland, Nomor GF 90074891 tercatat dalam buku hitam yang suatu saat akan di mintai pertanggung jawabannya, tak sedikit pun dari pihak tatanan penggelar menghadapi kerugian.Teruslah berikrar bahwa kesemuanya ini dapat terselesaikan dengan cara ku,dengan orang-orang ku, dan dengan sistim yang ku pegang sebagai pelimpah tunggal aset Revolusi ini, ingat dengan bukti apa kesemua nya  menjadi wujud yang nyata. Apakah tampil dalam segi kepahlawanan kita dapat bangga dan adakah sebuah nama yang besar tak tercoretkan dalam sejarah Revolusi besar bangsa ini tertakdir atas nama yang tak berarti dan perananya menggetarkan seruan semua jagat di muka bumi ini ialah Alloh beserta Rosulnya yang dipercaya mampu mengadakan revolusi menyeluruh kepada bumi cakrawala ini.
Ketahuilah bahwa aset Dana Revolusi ini telah musnah ditelan nafsu membuta manusia, sadarilah bahwa kesemuanya ini adalah angan liar nafsu sesaat kita yang membawa bukti atas nama yang ingin di kenal sebagai pendobrak system ketatanan pensejahteraan umat inilah bukti nyata sandiwara kata AKU terdepan agar semua meyakini ataupun terpercaya bagi kalangan nafsulialisme. Considering this statement, which was written and signed in November, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were just obtained.’ The Green Hilton Agreement’ pecahkan lah makna ini sebagai lahirnya tatanan baru yang abadi tersusun rapih pada dasar kitab yang terang sebagai awal penagih janjian 17081945 tarsimpan,terjaga oleh Paduka Yang Mulia… atas ijin dari Alloh lah empat penjuru penguasa jagat raya ini mebuka tabir mahligai turunya terang tanpa nafsu ialah “Rohul Kudus”pembawa wahyu adhi cakraningrat terukir dua arah mata angin pada Gading Putih yang menjulur membentuk Rahmat Intoqiyah 101 Cakra Ismoyo sebagai pemberi restu untuk membukanya Rubainah kunci alam dunia Vatikan tergerak menyongsong kabut sutra Yerusalem baru yang temboknya gemerlapan intan berlian berbentuk persegi sepanjang, terjaga oleh kekokohan pintu emas yang silaunya hingga penjuru cakrawala. Kursi Ikhlas pun mewujut menjadi jubah dan mahkota menyambut kedatangan “Imam Besar” yang terkenang ialah “Rajawali Paduka Yang Mulia…” membawa kotak hitam bernama “Tabut” sebagai terang untuk makna akhir sebuah cerita.
Dana Revolusi telah usai,terjunlah menggapainya maka impi yang terlukis menjadi angan yang kosong menemani kita dan permainan mengatas namakan dunia perbankan menjulurkan lidahnya mengharap rencana koloni nya berhasil, ketahuilah bahwa akan ada terang dalam penggambaran ini tak mengatas nama kan Trasti,Dinasty,ataupun Prasasti manapun sebagai bukti nyatanya karena semua itu Fana tiada angan nyata bagi makna nurani hidup, Iman dan Taqwa sesungguhnya menjadi bukti yang nyata atas pertanggung jawaban kelak dihadapan Nya sekaligus pembawa terang untuk restu dari yang menciptakan Jagat Amanah ini.Revolusi akan selamanya tergelar sampai batas waktu yang ditentukan datang….
Salam Nafas perjuangan.
BERSAMBUNG …
Share:

Dana Revolusi/ Dana Amanah

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 mei 1908) dan ikrar sumpah pemuda (28 oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.
Pada tahun 1906 terjadilah ikrar raja-raja nusantara yang di prakasai oleh Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, Soetomo, Raden Adipati Tirtokoesoemo, (presiden pertama Budi Utomo), Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dalam ikrar tersebut ditumbuhkannya rasa nasionalisme “tanah air (Indonesia) diatas segala-galanya”. Pada saat itu seluruh raja-raja nusantara menyumbangkan sebagian asset mereka untuk membantu perjuangan. (Dana Perjuangan). Sebagian dana itu dipakai untuk biaya perjuangan dan sebagian lagi disimpan diluar negri….hingga terjadilah dua peristiwa penting tersebut… 
Dana perjuangan lebih dikenal dengan Dana Revolusi/ Dana Amanah mulai dihimpun lagi pada masa setelah kemerdekaan, dana revolusi yang dihimpun berdasar perpu no.19 tahun 1960. konon berjumlah ratusan juta dolar tersimpan di luar negeri
Dana Revolusi? Sesuatu yang boleh jadi tak banyak lagi diingat orang. Menurut Suhardiman, inilah dana yang dihimpunkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 19 tahun 1960. Isinya, antara lain, mewajibkan semua perusahaan negara menyetorkan lima persen dari keuntungannya pada pemerintah -- bagi Dana Revolusi.
Yang disebut perusahaan negara itu, termasuk pula berbagai perusahaan Belanda yang baru dinasionalisasikan -- seperti perkebunan-perkebunan besar. "Bisa dibayangkan," kata Suhardiman, "betapa besar dana itu."
Suhardiman -- brigjen (pur) kelahiran Gawok, Surakarta, 18 Desember 1924 -- ingat benar adanya setoran wajib bagi Dana Revolusi itu. Soalnya, ketika peraturan itu berlaku, ia berkedudukan sebagai Direktur Utama PT Jaya Bhakti perusahaan di lingkungan TNI AD yang bergerak di bidang impor ekspor umum. "Sebagai pimpinan PT Jaya Bhakti, saya yang menyetor lima persen dari, laba perusahaan kepada pemerintah untuk Dana Revolusi itu," kata Suhardiman.
Dana revolusi itu dikumpulkan karena pemerintah tengah mengharamkan bantuan asing. Inilah politik dengan slogan Go to Hell with Your Aids. Akibatnya, tak ada bank devisa di dalam negeri. "Dus, semua kekayaan negara yang berupa valuta asing, atau yang dianggap sama dengan valuta asing, disimpan di luar negeri," kata Suhardiman. "Termasuk Dana Revolusi itu."
Menurut Suhardiman, yang mengaku kala itu juga merupakan pembantu utama Menteri Pertama Ir. H. Djuanda, sebagian dana itu disimpan berupa poundsterling, sebagian yang lain berwujud emas lantakan. Yang terang, katanya, yang bertanggung jawab atas Dana Revolusi itu adalah Presiden Soekarno dan Subandrio. Subandrio, memang, sejak 18 Februari 1961, senantiasa menduduki posisi penting, seperti wakil menteri pertama, merangkap menteri luar negeri, serta juga mengkoordinasikan hubungan ekonomi dan perdagangan luar negeri.
Suhardiman yakin bahwa Dana Revolusi yang dikumpulkan selama 1960-1965, belum terpakai. "Sebab, perubahan keadaan begitu cepat. Peristiwa terjadi, det-det-det, dan Bandrio ditahan," katanya. "Dan kini, bayangkanlah, berapa besar jumlahnya, setelah 20 tahun dana itu tersimpan di bank internasional." Jika diandaikan bunga depositonya dipukul rata 5% setahun, tambah Suhardiman, itu berarti dana itu telah berganda seratus persen.

Suhardiman tak tahu persis berapa besar dana itu. Ia juga mengatakan tak tahu di bank internasional mana dana itu ditanamkan. "Ada yang bilang dana itu mencapai 850 juta poundsterling," ujar Suhardiman. Menurut sumber , dana itu disimpan berupa lantakan emas, yang pada 1964 bernilai 3 juta dolar AS. Kabarnya, "harta revolusi" itu disimpan di Bank Barclay London, Inggris, ketika harga emas cuma 34 dolar AS per ounce (28,34 gram). Padahal, kini, harga emas berkisar 385 -- 400 dolar AS se-ounce. Dana Revolusi adalah dana yang dihimpunkan untuk kepentingan revolusi yang menurut Bung Karno, sang Pemimpin Besar Revolusi sendiri -- belum selesai. Menilik tahun peraturan yang mengaturnya, yakni 1961, agaknya pada mulanya dimaksudkan untuk dana pembebasan Irian Barat. Sebab, ketegangan hubungan RI-Belanda dalam hal Irian ini memuncak pada 17 Agustus 1960. Pada waktu inilah, RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Belanda. Dan selanjutnya, bertepatan dengan hari ulang tahun dimulainya aksi militer ke-2 Belanda, 19 Desember 1961. Presiden Soekarno mengucapkan Tri Komando Rakyat (Trikora), di Yogya. Dengan Trikora ini, maka mulailah konfrontasi total melawan Belanda.
Operasi militer itu terang membutuhkan biaya, antara lain untuk membeli senjata. Irian Barat akhirnya kembali ke pangkuan RI, 1 Mei 1963. Tapi toh revolusi berlanjut terus. Soekarno kini mulai mecanangkan konfrontasi melawan Malaysia. Bung Karno menganggap Malaysia merupakan proyek neokolonialisme Inggris, "yang membahayakan revolusi Indonesia yang belum selesai." Kita tahu, operasi gerakan bersenjata Ganyang Malaysia ini berlandaskan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Simpanan berupa emas batangan di Barclay's International Bank, London, senilai 225 juta poundsterling, dan di The Guyerzeller Zurmont Bank, Swiss, sebesar US$ 150 juta. Sebagian emas di Inggris itu konon hasil pindahan dari Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Ia berasal dari bantuan negara Nefo (New Emerging Forces) yang mendukung Indonesia mengganyang Malaysia.
Dan, konon, Subandrio sendiri sudah menyatakan bersedia membantu menguruskan pencairan Dana Revolusi itu. Tapi, agaknya, persoalan terbentur pada status Subandrio, yang tengah menjalani hukuman seumur hidup. Kabarnya, Subandrio telah menyatakan permintaannya bahwa ia bersedia mengurus Dana Revolusi itu asalkan ia dibebaskan dari hukuman. Adakah dana itu bercampur", misalnya, dengan kekayaan pribadi Subandrio? Masih banyak, memang, perkara yang belum jelas. Sebab, tak kurang Bung Karno sendiri, misalnya, pernah disebut turut menerima dana-dana revolusi, dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, hal itu disebutkan. Bunyinya: "Dalam pada itu Presiden Sukarno sendiri menerima komisi dari perusahaan asing yang melakukan impor ke Indonesia. Pada pelbagai bank di luar negeri tersimpan uang jutaan dolar atas nama Presiden."
Pada 13 Februari 1986, Soebandrio mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Ia menjelaskan mengenai simpanannya di Union Bank of Switzerland sebanyak US$ 650 juta. Di Bank Daiwa Securities Company, Tokyo, US$ 450 juta. Ia juga mengaku punya simpanan berupa emas batangan di Barclay's International Bank, London, senilai 225 juta poundsterling, dan di The Guyerzeller Zurmont Bank, Swiss, sebesar US$ 150 juta. Presiden Soeharto tanggap terhadap surat itu. Untuk menyelidiki kebenaran surat, dibentuk Tim Operasi Teladan, dengan tugas mengembalikan kekayaan harta negara. Tim yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Muda Sekretaris Kabinet (Menmud Seskab) Nomor 2 Tahun 1987, diketuai Marsekal Madya Kahardiman, Kepala Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu) Kopkamtib. Yang jadi anggota antara lain Teuku Mochamad Zahirsjah, Direktur Bank Indonesia, dan Hartanto, Sekretaris Menteri Muda Sekretaris Kabinet. Tim itu diberi batas waktu bekerja sampai 31 Oktober 1987, dan bertanggung jawab kepada Menteri Muda Moerdiono.
Segera sesudah tim dibentuk, Moerdiono menugaskan sekretarisnya, Hartanto, untuk bekerja. Sebelum berangkat, Hartanto minta tolong pada Bank Indonesia untuk menghubungi bank yang diduga menyimpan kekayaan Dana Revolusi. Setelah mendapat jawaban, Hartanto langsung berangkat ke London. Ia ditemani Teuku Mochamad Zahirsjah.
Pada 24 Januari 1987, utusan pemerintah ini diterima Alistair Robinson, Regional General Manager Barclay's International Bank, London. Robinson menyatakan bahwa masalah yang dibawa Hartanto akan dibawa ke tingkat pimpinan. Ia juga menjelaskan bahwa posisi emas sulit dilacak karena tak disebutkan di cabang mana Soebandrio menyimpan emasnya. Di Inggris terdapat sekitar 5.000 cabang Barclay's. "Ini alasan masuk akal. Orang kalau menabung atau berhubungan dengan bank jarang yang dengan kantor pusat, tapi lewat cabang," tutur Hartanto, 59, yang kini Sekretaris Menpora.
Lepas dari London, Hartanto melanjutkan perjalanannya ke Swiss. Sasarannya adalah Union Bank of Switzerland dan The Guyerzeller Zurmont Bank. Tim ini pada Jumat 30 Januari 1987 diterima oleh Erwin Bader, First Vice President, Peter Wall, Vice President, dan para ahli hukum bank itu. Ternyata mereka tak bersedia menjawab ada atau tidaknya dana Soebandrio yang disimpan dibanknya. Alasannya demi menjaga rahasia perbankan dan nasabahnya. "Kalau Tuan-Tuan tak puas, silakan menggugat lewat pengadilan," kata Hartanto menirukan eksekutif bank tadi. Para eksekutif itu juga meragukan informasi yang menyebutkan bahwa Soebandrio menyimpan duit di Union Bank of Switzerland Cabang Mabelone, karena Cabang Mabelone itu hanyalah cabang kecil. Dari Union Bank of Switzerland, tim bergerak ke The Guyerzeller Zurmont Bank,
Zurich. Mereka diterima Robert Zullig, eksekutif yang berpangkat manajer. Hasilnya sama saja: emas yang nilainya sekitar 225 juta poundsterling atas nama Soebandrio kecil kemungkinan tersimpan di situ.
Perjalanan ke Jepang, seperti direncanakan, tak dilanjutkan. "Menurut keterangan Husbin Mutahar, pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri, dana yang di Jepang sudah habis dipakai Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo," tutur Hartanto. Walau demikian pengumpulan bahan tetap dilanjutkan. Orang yang diperkirakan punya kaitan dengan Dana Revolusi dipanggil oleh Tim Operasi Teladan pada awal April 1987. Mereka yang diundang di antaranya Soesanto Djojosoegito, bekas Kepala Perwakilan Indonesia di Den Haag, Bugi Supeno, Menteri Negara Urusan Chusus Kabinet Dwikora, Mardanus, Menteri Perindustrian Kabinet Dwikora, dan Mulyadi Milono, bendaharawan Badan Pusat Intelijen (BPI). Pemeriksaan dilangsungkan di Bank Indonesia, di ruang Teuku Mochamad Zahirsjah.
Jawaban mereka beragam. Bugi mengaku hanya bertugas mengumpulkan dana dari masyarakat. Soesanto menjawab tak tahu- menahu adanya uang pemerintah di Swiss, Jepang, atau bahkan pemindahan emas besar-besaran dari Belanda ke Inggris. Mutahar mengaku tahu ada duit US$ 150 juta di The Guyerzeller Zurmont Bank, Swiss. Mutahar juga tahu adanya instruksi untuk Hartono, orang kepercayaan Soebandrio, agar menyimpan duit US$ 450 juta di Bank Daiwa Securities Company, Tokyo. Sisanya diberikan kepada Tim Pemeriksa Pusat: tiga orang perwira menengah.
Lalu di mana Dana Revolusi yang disebut-sebut ratusan juta dolar itu? Ini tak terlacak dalam pemeriksaan tersebut. Sementara Bank Indonesia sendiri kepada Tim Operasi Teladan menjelaskan bahwa saldo Dana Revolusi yang masih tersisa di Bank Indonesia adalah Rp 1.503.024.614.983. Juga ada yang berupa mata uang asing sebesar US$ 553 ribu. Ini merupakan rekening tidur, yang bertahun-tahun tak ada transaksi. Dana itu sudah diserahkan ke rekening bendaharawan umum negara.
Hartono dan Amin Arjoso bukan orang pertama yang gagal menarik dana itu. Sebelumnya ada yang sudah mencoba, namanya Musa bin Mohamad Kasdi. Ia adalah seorang pengusaha Malaysia yang sering berkunjung ke Jakarta, dengan nomor paspor A 1265380. Dari pergaulannya dengan kalangan atas di Jakarta, ia mendapat informasi tentang Dana Revolusi yang masih tersimpan di bank atas nama Soebandrio. Maka, pada 27 Februari 1981, ia menemui Soebandrio untuk merundingkan upaya pencairan dana itu. Untuk mengikat agar Soebandrio tak melakukan kerja sama dengan pihak lain, Musa mengeluarkan duit US$ 10.000 untuk Soebandrio.
Musa mengajak Jeffrey Leong, warga negara Malaysia, yang punya nomor paspor A 1745080, untuk membiayai operasi pencairan dana itu. Sebelum mengalirkan duit, Leong menemui Soebandrio lebih dulu untuk menjajaki kelayakan pencairan dana itu. Pertemuan itu berlangsung pada tanggal 8 dan 9 April 1981. Hasilnya, Leong malah grogi. Ia menilai, Soebandrio tak berhasil menunjukkan bukti adanya Dana Revolusi yang masih tersimpan. Baik lokasi bank maupun nomor rekeningnya, Soebandrio sudah tak ingat.
Pada 1 Juni 1981, Soebandrio membuat surat kuasa, yang isinya memberi hak kepada Musa untuk menarik semua dana, deposito, harta atas nama Soebandrio di luar negeri. Kedua Tan tadi, dan Nyonya Kusdyantinah, bertindak sebagai saksi. Surat itu kemudian dibawa ke kantor Notaris Ny. C.S. Moeliono dan Kedutaan Besar Swiss di Jakarta untuk disahkan. Hari itu Soebandrio meminjam uang US$ 5.000 lagi kepada Musa, dengan jaminan jam tangan. Nomor registrasi di jam itu, dikira Musa sebagai angka rekening Soebandrio di Bank Swiss. Tentu saja dugaan ini meleset.
Berbekal biaya dua Tan, Musa berangkat ke Swiss. Ia menghubungi Kurt Daetwyler, seorang pialang yang menjadi kontaknya di Bern, Swiss. Oleh kontaknya itu Musa ditemukan dengan Gerd Land, pengacara di Zurich. Pengacara inilah yang dikontrak Musa untuk mencairkan Dana Revolusi. Ternyata Gerd Land tak bisa mencairkan dana yang diduga ada di Union Bank of Switzerland. Penyebab kegagalan itu, pertama, karena surat kuasa untuk Musa tak bisa dialihkan ke Gerd Land, pengacara Swiss itu. Kedua, stempel Kedutaan Besar Swiss ternyata tertera pada lembar tanda tangan notaris, bukan pada halaman tanda tangan Soebandrio. Akibatnya tanda tangan Soebandrio, yang bertindak sebagai pemilik rekening, oleh bank dianggap tidak sah.
Di luar bisnisnya dengan Gerd Land, diam-diam Musa menjalin kerja sama dengan seorang pialang lain, Mr. Ribaux, seorang warga Swiss. Menurut Ribaux, Soebandrio memiliki rekening di Union Bank of Switzerland Cabang Mabelone, Jenewa. Hanya informasi ini yang berhasil diperoleh Musa.
Musa datang ke Jakarta tanpa membawa emas batangan atau sepeser pun uang. Tapi bagi bekas Waperdam I itu, informasi tentang rekening tersebut membangkitkan semangat…
Setelah era Musa, kini datang orang lain yang mencoba peruntungan, yaitu Ghouse Ismael, seorang Malaysia. Ghouse tertarik terjun ke lingkaran misteri Dana Revolusi karena ada jaminan bahwa uang yang ia keluarkan untuk menyelidiki dana itu tak akan hilang sia-sia. Bila ia gagal, dana penyelidikannya diganti keluarga Soebandrio, diambilkan dari cek The Guyerzeller Zurmont Bank, senilai US$ 35 ribu atas nama bekas Waperdam I itu. Nyatanya, sekalipun ia telah datang ke Zurich bersama Indra Yoga, anak Kusdyantinah, cek itu gagal dicairkan. Menurut bank itu, kuasa Soebandrio sebagai pemilik cek sudah dicabut sejak tahun 1966. Duit yang ia keluarkan untuk membiayai penyelidikan, sebesar Rp 36 juta, menguap percuma.
Upaya lain dilakukan Nicholas James Constantine, kini 80 tahun. Ia adalah seorang pengacara senior yang berkantor pusat di 33 North La Salle Street, sebuah kawasan elite bisnis di Chicago. Constantine, keturunan Yunani itu, lulusan De Paul University, Chicago, tahun 1943. Ia mengambil spesialisasi pada hukum bisnis, perbankan, dan koperasi.
Constantine masuk ke lingkaran perburuan harta karun ini lewat teman lamanya, Hudoro Hupudio, adik bungsu Hurustiati, istri pertama Soebandrio. Menurut koran Indonesian Observer, 2 November 1987, Hudoro bersama Constantine pada Oktober 1987 sempat ke Swiss bersama Bambang Suharto, waktu itu direktur Hero, kini anggota Komnas HAM. Mereka menghubungi Union Bank of Switzerland. Menurut sebuah sumber, Constantine memperkirakan, Soebandrio punya simpanan di bank tersebut sebanyak US$ 650 juta. Constantine ternyata gagal juga, dan misteri Dana Perjuangan/DanaRevolusi/Dana Amanahpun tetap tak terungkap.
Tapi kini setelah 100 tahun kebangkitan nasional misteri dana perjuangan/dana revolisi/
dana amanah itu terungkap….
Setelah penantian panjang…..
Setelah harapan yang tiada pernah padam.....
Setelah kerja keras yang tiada henti….
Sudah saatnya dana amanah itu kembali kepada rakyat Indonesia …..
Salah satu dokumen Indonesia memiliki kekayaan…
“ The Green Hilton Agreement“
“Considering this statement, which was written and signed in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were just obtained.”
Itulah sepenggal kalimat yang menjadi berkah sekaligus kutukan bagi bangsa Indonesia hingga kini. Kalimat itu menjadi kalimat penting dalam perjanjian antara Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dengan Soekarno pada 1963.
Banyak pengamat Amerika melihat perjanjian yang kini dikenal dengan nama “The Green Hilton Agreement” itu sebagai sebuah kesalahan bangsa Amerika. Tetapi bagi Indonesia, itulah sebuah kemenangan besar yang diperjuangkan Bung Karno. Sebab volume batangan emas tertera dalam lembaran perjanjian itu terdiri dari 17 paket sebanyak 57.150 ton lebih emas murni.
Emas-emas yang sudah kembali ke Indonesia
http://www.danaamanah.yolasite.com
Uang yang telah dirupiahkan
Kini sudah saatnya kebangkitan nasional ... BANGKIT KEMBALI...
sudah saatnya rakyat Indonesia merasakan keadilan dan KESEJAHTERAAN..
KEMAKMURAN adalah milik rakyat Indonesia..
KEKAYAAN Indonesia adalah kekayaan RAKYATnya...
RAKYAT INDONESIA BERHAK ATAS DANA INI...
kunjungi:
Share:

Warisan PB IX Diserahkan untuk Rakyat



JAKARTA (Suara Karya): Warisan kekayaan Paku Buwono (PB) IX berupa uang tunai yang kabarnya mencapai triliunan rupiah akan dicairkan dan diserahkan kepada rakyat Indonesia melalui pemerintah. Penyerahan warisan ini akan dilakukan dalam sebuah acara di anjungan Provinsi Jawa Tengah TMII, Jakarta Timur dengan mengundang perwakilan dari pemerintah dan PBB.
Hal itu diutarakan KGPH Tjokro Koesoemo atau H Chaerul Fathulloh kepada beberapa wartawan media cetak dan elektronik, Senin (1/3) petang. 
Pernyataan ini disaksikan Sekretaris Inpack PBB di Jakarta, Yosephine dan puluhan undangan lainnya. Undangan yang hadir antara lain Ketua dan Sekretaris Yayasan Graha Manunggal Sentosa (GMS) masing-masing GPH Subenan Mooy dan Yoppy Wermas Subun.
Inpack PBB adalah lembaga yang menganalis dana bantuan dan mendukung seluruh link atau jaringan dalam masyarakat di setiap negara. "Saya bisa membuktikan secara otentik yuridis formal kebenaran ini. Finalnya tanggal 3 Maret di Anjungan Jawa Tengah di TMII," kata Tjokro Koesoemo yang dipanggil Romo oleh Mooy dan Yoppy.
Dalam kesempatan tersebut Tjokro yang disebut sebagai Panglima Tertinggi Aset Amanah Republik Indonesia itu menegaskan dana aset Indonesia tersebut bukan mitos dan misteri tetapi dapat dibuktikan. Usai menunjukkan dokumen besaran dana, Tjokro menunjukkan 2 peti tempat menyimpan uang tunai dan emas yang disimpan di sekretariat Yayasan GMS tempat berlangsung acara malam itu. 
Yosephin, sekretaris Inpack PBB di Jakarta, mengatakan percaya adanya dana senilai tersebut.
Yoppy selaku Mandataris Amanah maupun Ketua Umum Yayasan, Subenan Mooy menjelaskan, setelah pertanggungjawaban 3 Maret, sebagian dana tersebut akan digunakan membangun 500 unit rumah untuk masyarakat prasejahtera di Nangroe Aceh Darussalam. (Dwi Putro AA)
Share:

Misteri Identitas Pemegang Dana Amanah

Bagi Anda-Anda yang pernah atau sedang terlanjur menggeluti dana amanah, pasti familiar dengan salah satu atau beberapa nama-nama ini: Soewarno, Khairul Fathollah, Ibu Sarinah, atau pun King Wali Sakti.

Sudah sejak zaman Pak Harto konon ada banyak rombongan kecil berangkat membawa Mr. Soewarno ke Swiss sana untuk mencoba mencairkan dana amanah, tapi pulang dengan tangan kosong, bahkan beberapa tidak kembali.
Di dalam negeri sendiri, silih berganti orang-orang yang mengaku orangnya Soewarno, atau Khairul Fathollah, atau Ibu Sarinah dengan membawa setumpuk dokumen kolateral, yang akan membagi-bagikan uang hibah untuk rakyat miskin, proyek kemanusiaan, untuk mendirikan rumah sakit di pelosok, dan banyak lagi, yang semuanya tinggal sebentar lagi pasti cair, hanya butuh uang untuk menjemputnya ke Jakarta saja. Itulah yang akhirnya sering disebut sebagai PO (Proyek Ongkos). Seperti yang iyah tapi bo'ong. Seperti yang asli tapi bodong. Diam-diam, banyak sudah korban yang tertipu, uang warisan amblas harapan kandas.
Tatkala dana Rp.1.200 triliun masuk ke Indonesia, semua yang mengaku nama-nama tersebut di atas berdalih dan yakin bahwa itu adalah hasil perbuatan mereka, jasa mereka. Dengan lantang mereka mengatakan bahwa uang sudah ada di Bank Mandiri, di BNI, di BRI dsb. tinggal tunggu tanggal mainnya-lah, sebentar lagi-lah, tunggu SBY pulang dari Davos-lah, tunggu SBY pulang dari G-20-lah, tunggu SBY dari Amerika-lah, tinggal tunggu SBY pulang dari Inggris-lah. Tetapi tatkala sebagian dana tiba-tiba ditarik secara ajaib dari peredaran, dan sebagian lagi 'disimpan' di BI, mereka yang mengaku-ngaku itu hanya bisa beralasan macam-macam, atau mengambil sikap diam membisu seribu basa. Why? Karena memang mereka bukan pemegang dana amanah yang asli. Mereka tidak memiliki kesaktian itu.

Sekarang saya akan menceritakan tipologi orang-orang yang memburu dana amanah ini. Tipe pertama sosok individu orang-orang yang punya gelar akademik lulusan sekolah bisnis di luar negeri faham aturan perbankan internasional, penelusuran modern dan lobby canggih bermodal sponsor kuat, memburu harta karun dana amanah berdasar kelengkapan dan keabsahan dokumen otentik. Tipe kedua adalah sosok individu yang prihatin, non-akademik, melakukan tapabrata menempuh jalan spiritual untuk membuka misteri dana amanah. Kedua tipe manusia ini pada akhirnya ketemu di satu titik yang sama, sama-sama menyimpulkan bahwa dana amanah itu benar-benar ada, benar-benar "on" tetapi keukeuh tidak bisa mencairkan dana amanah karena yang berhak mencairkannya adalah si mandataris pemegang dana amanah yang asli, dan yang asli bukan mereka. Walau pun kedua tipe ini digabung jadi satu tim pun tetap saja tidak mampu mencairkan. Why?

Ya... memang "sengaja" dibuat begitu.

Kenapa sengaja dibuat begitu?

Begini logikanya!

Kalau hanya mengandalkan bonafiditas dan pengetahuan akademik perbankan dan kekuatan uang saja, siapa sih di dunia ini yang bisa tahan dan sanggup melawan kekuatan jaringan Illuminati International? Merekalah yang punya jaringan perbankan terkuat di dunia, mereka punya jaringan bisnis multinasional di bidang energi, multimedia, pertambangan, senjata militer canggih, satelit intelijen online, pokoknya semua yang ada di dunia ada di dalam jangkauan tangan mereka. bahkan mafia-mafia pun asuhan di bawah kontrol mereka. Merekalah 13 keluarga Yahudi paling top kaya raya dunia. Bahkan salah satunya, keluarga Rothchild dijuluki sang nabi uang, the prophet of money.   
Sebaliknya pun begitu. Kalau kalibernya masih paranormal biasa kelas lokal, siapa bisa melawan kekuatan supranatural kaum Yahudi Illuminati yang terkenal cerdas itu? Kaliber dunia gitu loh!
Jadi alhasil, kalau ukurannya dunia, maka di dunia ini baik kekuatan uang, kekuatan otentik dokumen maupun kekuatan paranormal, tidak akan ada yang bisa menandingi kekuatan jaringan Illuminati. Itu kata dunia. Tapi kata Gusti Alloh mah lain lagi. Di atas langit ada langit.
Alhasil, si pemegang dana amanah yang asli adalah orang yang sakti. Sakti bukan karena dirinya memang sakti, tetapi karena Gusti Alloh memilihnya untuk memegang amanah dengan selamat, karenanya harus di-sakti-kan! Maka jadilah dia orang yang sakti sampai tugasnya dianggap selesai tuntas.

Pertanyaannya: sesakti apakah sih dia?
Begini ukurannya.

Pertama, Anda kalau baca Al Quran pasti ketemu kisah Nabi Sulaiman as. yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap, bukan? Atau bicara dengan semut? Naah... hanya kesaktian sekaliber itulah di zaman sekarang yang bisa mengalahkan kekuatan Illuminati yang mati-matian ingin menguasai dunia. Pada tahun 2005, seluruh perjanjian yang bersumber dan mengacu kepada perjanjian induk, termasuk perjanjian induknya, habis masa berlakunya. Ini berarti siapapun yang mau mencairkan dana amanah harus membuat perjanjian induk yang baru. Untuk membuat perjanjian induk yang baru maka perangkat perjanjian induk yang lama harus dihadirkan, dan demikian pula si pemegang amanah.
Mari kita fokus dulu ke perangkat perjanjian induk yang lama. Itu terdiri atas tiga benda, disimpan dalam peti, dan peti disimpan di dalam "loker" di Eropa sana. Perjanjian induk yang lama ditandatangani oleh 12 kerajaan, dan di dalamnya tercantum dua nama, yaitu: Soewarno, dan Kerajaan Sunda Nusantara Parahyangan.
Pada Juni 2006, Bush diteropong membobol "loker", namun sang peti - tentu saja beserta isinya - terbang bak cahaya. Intel dan  paranormal dibantu satelit canggih mereka berhasil melacak, si peti "terbang" ke Bogor! Itulah ceritanya mengapa 20 November 2006 - sehari sebelum jatuh tempo Amerika bayar sewa kolateral kepada rakyat Indonesia - Bush sengaja datang ke Indonesia dengan agenda yang agak aneh, yaitu maunya ke Bogor, dengan pengawalan seper dan ekstra ketat, misinya rahasia, membuat helipad di halaman Istana Bogor di dalam Kebun Raya Bogor. Maunya hanya satu - pake gaya koboy - menjarah itu peti. Tapi sang peti bergeser terhijab dari mata paranormal mereka, padahal ada di sekitar mereka. Lalu "terbang" ke Bandung!


Kedua, yang membuat mereka tambah kelimpungan adalah cadangan emas yang mereka timbun di gudang-gudang Federal Reserve maupun di Fort Knox, tiba-tiba dipertanyakan keberadaannya oleh Senator Ron Paul. Dengan demikian ada tiga skenario yang mungkin terjadi: (1) Emas sebenarnya masih ada tapi memang tidak pernah diaudit; (2) Emasnya sudah dijual diam-diam oleh Pemerintah; (3) Emas tersebut adalah emas yang  dijadikan kolateral pada perjanjian induk awal, dan ditarik balik oleh "sang bandar" ke Indonesia.  Jika menggunakan skenario ketiga, menjadi relevan dan logis mengapa Indonesia bisa masuk ke kelompok G-20 padahal sebenarnya dinilai layak masuk kelompok BRICS (Brazilia, Rusia, India, China, South Africa) - pun belum, baru hampir; itupun kalau mulus tanpa gejolak dan nihil disintegrasi. Presiden SBY diundang kesana kemari, menjadi tamu kehormatan dan mendapat gelar kehormatan di Inggris oleh Ratu Elisabeth II, bahkan secara aklamasi oleh para pemimpin dunia dipilih menjadi salah satu trio juru damai perumus masa depan dunia yang lebih baik dan damai. Luar biasa! Semua pemimpin negara dan lembaga-lembaga dunia yang matanya awas bin waspada memang mau tidak mau terpaksa menoleh kepada Indonesia, tergopoh-gopoh silih berganti berkunjung ke Jakarta; ada pakar dan pengamat luar negeri yang memuji setinggi langit bahwasanya Indonesia akan menjadi negara terkuat di dunia; padahal sejatinya mereka berbaik-baik karena semua minta tolong negerinya didahulukan kepada Indonesia. Ironisnya, di dalam negeri para elite politik asyik sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk dengan urusannya sendiri, sibuk dengan obsesinya sendiri, sibuk dengan sengketanya sendiri, sibuk dengan kelitannya supaya lolos dari kejaran jerat hukum KPK dan luput dari lacakannya PPATK.

Ketiga, mereka melacak dan menurunkan tim demi tim ke Bandung, dengan misi rahasia, yaitu mencari who pemegang dana amanah yang asli. Di lain pihak, para sultan, para raja se-Nusantara yang punya kemampuan paranormal atau pun punya informasi tentang warisan harta karun dan/atau silsilah yang nyambung, juga berkesimpulan yang sama, yaitu selain mereka ingin kebagian atau merasa berhak atas harta karun nenek moyang, bahwa si mandataris pemegang amanah ternyata bermukimnya di Bandung. Maka saling intip mengintip terjadi di balik manuver pertemuan demi pertemuan para raja dan sultan di kota ini. Semuanya mencari yang mana gerangan sebenarnya sang mandataris pemegang dana amanah yang asli. Yang merasa dirinya pantas sih lebih dari satu, tetapi yang punya kesaktian dan punya tanda, tidak ada.

Baik para intel luar negeri, para kaki-tangan Illuminati di sini, para kerabat sultan dan raja-raja maupun kaum paranormal domestik yang lumayan tinggi ilmunya, semuanya diam-diam sepakat bahwa identitas sang pemegang dana amanah ada kaitannya dan berhubungan erat dengan dua 'clue' berikut ini: pertama, "Soewarno", dan kedua "Sunda Nusantara Parahyangan". Harap dimaklum, "Soewarno" yang dimaksud bukan orang, bukan sosok kakek-kakek dari Solo bernama Soewarno. Itu kode rahasia, gabungan dua kekuatan/ketinggian ilmu;  itulah cerminan kecerdasan para karuhun untuk mengantisipasi dana amanah tidak jatuh ke tangan yang tidak berhak menurut ketentuan-NYA.

Lalu, apa maunya sang bandar si pemegang dana amanah agar bersedia mencairkan dana amanah yang sangat ditunggu-tunggu oleh dunia?

Cepat atau lambat memang sang bandar harus turun gunung. Permintaannya hanya satu: menunggu tanda yang jelas dari Gusti Alloh, siapa tim penjemput yang absah dari Swiss! Di sanalah sang bandar bertemu kembali dengan "sang penjaga gudang asset dana amanah": Nabi Khidir as, dan Nabi Ilyas as!



Eng-ing-eng !
Sumber : http://misteridanaamanah.blogspot.com/2013/03/misteri-identitas-pemegang-dana-amanah_10.html
Share:

Minggu, Februari 10

Tokoh Dan Menokohkan Diri


Mungkin anda tokoh, ditokohkan atau memang berusaha menokohkan diri. Yang pastinya, ketokohan itu bukan tidak merepotkan, disaat kita berada pada lingkungan yang tidak nyaman dengan ketokohan. hari ini anda bernasib baik, karena kekuasaan berpihak kepada anda.

Tapi, sejarah telah membuktikan bagaimana hilangnya tokoh-tokoh lama kemudian munculnya penguasa baru. Penguasa yang dulu sangat diagungkan dengan seketika lenyap begitu saja. Seiring berjalan waktu sedikit demi sedikit ketokohannya semakin pudar. Maka muncullah penguasa baru yang begitu semangat, berdiri tegar dan dipenuhi dengan rasa dendam atas kekuasaan anda masa lalu.

Gejolak dendam ketika anda berkuasa, maka semakin hari semangatpun semakin jadi keinginan untuk melakukan perubahan, bahkan mereka ingin menunjukan bahwa “aku bukan tidak tahu sosok kekuasaan anda dulu” perkataan ini merupakan reaksi dari keganasan dan ketertindasan anda dulu.

Jadi, ketertindasan itu bukanlah sebuah peristiwa yang bisa diketahui akhir ceritanya. Bukan tidak bisa keberhasilan melawan ketertindasan itu dapat meraih gelar pahlawan. Tetapi, suatu saat bisa saja menindas setelah mendapat gelar pahlawan atau ketokohan yang menjadi kebanggaan.

secara empiris, disaat reformasi bergulir di indonesia, gerakan mahasiswa seakan-akan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa --- sebagai perpanjangan aspirasi rakyat ---- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.

Bagaiman dengan hari ini, tokoh-tokoh yang dulu vocal menyuarakan anti penindasan mereka berasal dari berbagai kalangan, baik dari tokoh mahasiswa, LSM dan lain. Mereka melawan penindasan dengan berbagai macam gaya, tapi sangat disayangkan, ketika mereka berada pada lingkaran kekuasaan. Bahkan mereka lebih cerdas menindas, karena sudah kenyang dengan pengalaman melawan kekuasaan. Inilah realitas yang sebernya.

Walaupun demikian biarkan semua itu berjalan sesuai roda kekuaasaan, jadi suatu saat akan terbukti yang benar-benar tokoh dan yang menokohkan diri dan siapa yang mengambil keuntungan dibalik tokoh tersebut. Perlu dingat, tidak ada orang yang ingin lenyap dari ketokohannya, itu merupakan simbol hidup.
Share:

Minggu, Februari 3

ARTI CINTA

Cinta itu Buta itu tidak benar : jika tidak, mengapa cowok mencari cewek cantik dan cewek mencari cowok ganteng ?
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah
Cinta bagaikan api, yang dapat menghanguskan hati mu, namun cinta juga bagaikan udara yang segar karna dapat menyejukan hati.
Cinta bagaikan lampu yang indah menerangi hati, namun jika cinta redup akan membutakan segalanya.
Demi cinta semua pun di relakan, namun ketika cinta itu hilang susah untuk di relakan
Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan
Emas diuji dengan api, wanita diuji dengan emas dan lelaki diuji dengan wanita.
Hati yang terluka umpama besi bengkok walau diketuk sukar kembali kepada bentuk asalnya
Hidup penuh cinta bagaikan di kelilingi 7 bidadari
Ikuti apa kata hatimu, karna kata hati ialah petunjuk langkah maju yang sesungguhnya
Jangan pernah harapkan kembali yang telah tiada, namun jangan pernah lupakan kenangan yang pernah ada.
Jangan tertarik kepada seseorang kerna parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya kerna kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, kerna hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.
Ke gagalan cinta yang kita jaga sangat lah sakit, namun ketika kita menemukan cinta sungguh berarti hidup kita.
Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata -katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka kerana kata - kata adalah sama buruknya dengan luka berdarah.
Lebih baik kebencian yang menumbuhkan rasa cinta dalam hati, dari pada rasa cinta yang mengawali hingga membuat kebencian.
Masa lalu adalah seperti melihat dari tingkap kaca yang berdebu, segalanya nampak senyap dan tidak pasti.
Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa
Yang telah berlalu biarkan ia berlalu, yang mendatang hadapi dengan cemerlang
Seorang arkeolog adalah suami terbaik yang pernah dimiliki oleh seorang wanita. Semakin tua istrinya, semakin tertarik dia kepada istrinya.
Jangan salahkan grativasi jika kau jatuh cinta
Jangan salahkan grativasi jika kau jatuh cinta.
#Orang tidak pernah tahu betapa spesialnya seseorang sampai mereka pergi meninggalkannya, tetapi kadang-kadang hal meninggalkan itu menjadi penting, sehingga mereka diberikan kesempatan untuk melihat betapa spesialnya sesorang itu.
Jatuh cinta adalah hal yang mudah, memeliharanya pun tak sulit, kesepian manusia sudah cukup menjadi penyebabnya. Yang sulit dicari adalah teman yang kehadirannya terus menerus menjadikan dia orang yang terus diinginkan.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi, Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?. Jawab titis air mata kedua tu, Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.
Ada banyak cinta yang coba kita perjuangkan, tapi hanya ada satu yang pantas kita
Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian, janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
Air mata wanita adalah senjata yang membuahkan kemenangan.
Aku harap kamu bisa membaca pikiranku, disana semua tentangmu.
Aku Mencintaimu Karena aku meyakini didalam hatimu slalu tersimpan kebahagiaan buatku.
Share:

Minggu, Desember 30

SEPASANG KEKASIH



…Sepasang Kekasih…
Seikat kasih sayang,
Kau tinggalkan hanya untuku,
Ketika kau lepaskan genggaman cintamu,
Kau tapakkan kaki dariku,
Kini tumbuh sebuah rindu,
Memenuhi di kedalaman hati,
Berbisik, bertanya selalu,
Di manakah cinta yang kau janjikan.                    
Berjuta harapan yang kau torehkan,
Namun yang ku terima hanyalah dongen belaka,
Teriring torehan harapan,
Di antara insan yg kau cintai.                               
Ku dekapi harapan itu,
Ku cucuri dengan air mata,
Ku sebut namamu dalam doa,
Semoga bahagia bersamanya.
Share:

Pengikut